Dua Mindset yang Diam-Diam Membentuk Kelas Anda
Sebelum kita bicara strategi, mari kenali dulu dua cara berpikir yang menentukan bagaimana seorang murid bereaksi ketika soal terasa sulit β dan kemungkinan besar, Anda sudah sering melihatnya tanpa menyadari namanya.
Konsentrasi menghadapi sesuatu yang belum dikuasai β ini momen di mana mindset bekerja paling keras.
Bayangkan dua murid duduk bersebelahan. Keduanya diberi soal matematika yang sama β satu tingkat di atas kemampuan mereka biasanya. Murid pertama membaca soal, mengerutkan kening, lalu mendorong kertasnya pelan-pelan ke ujung meja. "Aku nggak bisa. Ini bukan levelku." Murid kedua juga mengerutkan kening, tapi dia menggigit pensilnya sebentar, lalu menulis di pojok kertas: "Coba dulu, gimana ya..."
Soalnya sama persis. Kemampuan awal mereka pun, dalam banyak kasus, tidak jauh berbeda. Yang berbeda adalah satu kalimat kecil yang mereka katakan pada diri sendiri di detik soal itu terasa sulit. Carol Dweck menyebut kalimat kecil itu sebagai jendela ke dalam mindset β keyakinan seseorang tentang apakah kemampuan itu sesuatu yang menetap, atau sesuatu yang bisa tumbuh.
Satu Pertanyaan, Dua Jawaban Berbeda
Semua bermula dari satu pertanyaan sederhana yang ditanyakan Dweck kepada ribuan orang selama puluhan tahun: apakah kecerdasan itu tetap, atau bisa berkembang? Jawabannya membelah cara orang merespons kegagalan menjadi dua jalur yang sangat berbeda.
FIXED MINDSET
Kemampuan adalah bawaan. Kamu punya sejumlah tertentu β tidak lebih, tidak kurang.
- "Aku memang bukan orang matematika."
- Kegagalan = bukti bahwa aku tidak cukup pintar.
- Tantangan dihindari β bisa-bisa kelihatan bodoh.
- Kritik dirasakan sebagai serangan pribadi.
- Kesuksesan orang lain terasa mengancam.
GROWTH MINDSET
Kemampuan adalah titik awal. Bisa berkembang lewat usaha, strategi, dan masukan orang lain.
- "Aku belum kuasai ini β belum."
- Kegagalan = informasi tentang apa yang perlu dicoba lagi.
- Tantangan dicari β di situlah belajar sebenarnya terjadi.
- Kritik dirasakan sebagai bahan untuk membaik.
- Kesuksesan orang lain terasa menginspirasi.
Potensi sejati seseorang tidak pernah benar-benar diketahui β dan tidak mungkin diketahui. Tidak ada cara untuk meramalkan apa yang bisa dicapai setelah bertahun-tahun penuh semangat, kerja keras, dan latihan.
β Carol S. Dweck, MindsetContoh yang Tidak Bisa Dibantah
Wilma Rudolph lahir prematur di Tennessee tahun 1940-an, anak ke-20 dari 22 bersaudara. Ia terkena demam scarlet dan polio, dan pada usia enam tahun kehilangan fungsi kakinya. Setiap minggu ibunya membawanya berobat; setiap hari saudara-saudaranya memijat kakinya bergiliran.
Pada usia sembilan tahun, ia melepas penyangga kakinya dan mulai berjalan lagi. Sebelas tahun kemudian, kaki yang dulu lumpuh itu membawanya ke podium Olimpiade Roma 1960 β tiga medali emas, dan gelar wanita tercepat di dunia saat itu.
Kisah ini bukan soal "kerja keras mengalahkan segalanya". Kisah ini soal satu keyakinan yang dipegang Wilma dan keluarganya: bahwa kondisinya hari ini bukan kondisinya selamanya. Itulah inti growth mindset β bukan optimisme buta, tapi keyakinan bahwa usaha yang tepat bisa mengubah arah.
Kondisi sulit bukan akhir cerita β sama seperti tunas ini, yang tetap mencari jalan ke atas.
Sebelum Lanjut, Coba Pikirkan
Growth mindset bukan hanya soal murid β Anda juga punya area-area dalam hidup di mana fixed mindset muncul tanpa diundang. Coba jawab dua pertanyaan ini untuk diri sendiri, boleh ditulis di buku catatan Anda:
Ingat satu guru Anda dulu yang membuat Anda merasa "aku memang nggak bisa pelajaran ini". Apa yang dia katakan atau lakukan?
Sekarang ingat satu guru yang membuat Anda merasa "aku belum bisa, tapi aku akan bisa". Apa bedanya cara dia merespons kesalahan Anda?
Jawaban Anda sendiri adalah bukti paling pribadi bahwa mindset itu menular β dan di bagian-bagian berikutnya, kita akan bedah persis bagaimana bahasa kecil sehari-hari menularkannya.
Yang Perlu Anda Bawa Pulang
Mindset adalah keyakinan, bukan kepribadian. Bisa berubah, dan satu orang bisa punya fixed mindset di satu bidang, growth mindset di bidang lain.
Kegagalan adalah titik cabang. Fixed mindset membacanya sebagai akhir cerita; growth mindset membacanya sebagai data untuk mencoba strategi baru.
Bahasa kita menular. Cara guru merespons kesalahan murid ikut membentuk mindset apa yang dipegang murid tentang dirinya sendiri.