Mendobrak
Tembok Elitisme
Sebuah revolusi pemikiran di mana pendidikan bukan lagi hak istimewa kaum berharta, melainkan panggilan bagi jiwa-jiwa yang berbakat.
Mari kita lihat kembali kondisi Athena di masa lalu. Pada zaman tersebut, pendidikan tingkat lanjut sangatlah mahal. Kaum Sofis memasang tarif selangit untuk jasa mereka mengajarkan ilmu retorika. Akibatnya, pendidikan memonopoli kebenaran hanya untuk segelintir pemuda dari keluarga bangsawan kaya raya.
Pendidikan Milik Negara
Plato muak dengan komersialisasi ini. Dalam karyanya, ia merumuskan gagasan yang sangat gila pada masa itu: Pendidikan harusnya diurus dan dibiayai oleh negara, bukan diserahkan pada mekanisme pasar. Mengapa? Karena tujuan pendidikan adalah mencetak warga negara yang baik, maka negara berkewajiban memastikan semua anak mendapatkan akses untuk memutar jiwa mereka ke arah kebenaran.
Kesetaraan Gender Klasik
Lebih mengejutkan lagi, Plato menyatakan bahwa perempuan memiliki hak yang sama persis dengan laki-laki untuk menempuh pendidikan tertinggi, bahkan hingga menjadi pemimpin negara (Sang Filsuf-Raja). Di tengah masyarakat Athena yang sangat patriarki, pandangan ini adalah sebuah anomali. Bagi Plato, yang membedakan hak seseorang untuk belajar bukanlah jenis kelamin atau isi dompetnya, melainkan bakat bawaan dan karakter jiwa (physis).
ποΈ Panitia Seleksi Akademia
Kamu bertugas sebagai penyeleksi murid baru di sekolah Plato. Uji pemahamanmu dengan menerima atau menolak kandidat ini berdasarkan prinsip kesetaraan Plato!
Nama Kandidat
Deskripsi Kandidat...
π Jurnal Refleksi Pendidik
Gagasan Plato tentang kesetaraan akses belajar sangat relevan untuk pendidikan inklusif hari ini. Kunci komitmenmu di bawah ini: